Friday, February 12, 2010

14 FEBRUARI 1945 : PEMBERONTAKAN TENTARA PETA BLITAR

14 FEBRUARI 1945 :
PEMBERONTAKAN TENTARA PETA BLITAR & KIBAR SANG MERAH PUTIH
SEBELUM PROKLAMASI


Pekan - pekan ini saya menyempatkan kembali membuka arsip lama, berupa tulisan lepas, agenda kegiatan saya hingga kembali ‘menilik’ sebuah file film documenter yang saya kerjakan pada awal tahun 2007 lalu. Pemicunya seorang kawan jurnalis dari Semarang, yang tengah menyiapkan tulisan mengenai “ BLITAR 14 FEBRUARI 1945”. Awalnya setahun lalu ia searching di google, dan memang menemukan postingan saya pada 13 Februari 2009 di http://cahdjengkol.multiply.com/journal/item/79/MENCARI_SUPRIYADI_SANG_MERAH_PUTIH_14_FEBRUARI_1945

Sejak kemunculan Andaryoko Wisnuprabu (telah meninggal pada Rabu 03 Juni 2009), seorang pria berusia 89 tahun asal Semarang Jawa Tengah yang mengaku sebagai panglima Tentara Keamanan Rakyat Supriyadi dan memimpin Pemberontakan Tentara PETA di Blitar pada 14 Februari 1945, beberapa kawan jurnalis memang banyak yang menghubungi saya untuk mengumpulkan data yang pernah saya himpun, tatkala saya menyiapkan pembuatan film dokumenternya di Blitar.

Benar tidaknya pengakuan Andaryoko Wisnuprabu adalah Supriyadi, seperti yang ditulis oleh sejarawan Baskara T.Wardaya dalam bukunya Mencari Supriyadi, setuju atau tidak masyarakat terhadap pernyataan Andaryoko, ia telah mendorong berbagai pihak untuk berpikir ulang mengenai sejarah. Narasi sejarah yang selama ini didengar tidak sepenuhnya benar. Terutama sejarah yang tujuannya untuk kepentingan tertentu. Dengan itu masyarakat disadarkan bahwa peristiwa sejarah merupakan sesuatu yang multiinterpretasi. Sejarah juga dapat ditafsir ulang. Fakta yang ada mungkin sama, tetapi interpretasi atas makna bisa berbeda. (Kompas.com 04 Juni 2009).




Buku ‘Mencari Supriyadi’ yang kali pertama di luncurkan di Semarang, pada Sabtu 9 Agustus 2008 itu memang menuai kontoversi. Di berbagai belahan Indonesia, khususnya di Jawa Timur, kehebohan terjadi. Berbagai pendapat, pro dan kontra tersulut karena pernyataan menghentakkan itu. Di Blitar apalagi. Sampai sampai pihak Pemerintah Kota Blitar menggelar acara khusus dengan menghadirkan Andaryoko ‘Supriyadi’ untuk didengar kesaksiannya. Keluarga besar Supriyadi yang tinggal di Jakarta, Bogor dan Blitar mengeluarkan pernyataan keras; “Andaryoko bukan Supriyadi anggota keluarga kami”.




Sebagai pelaksana pembuatan produksi film semi documenter “Pemberontakan PETA BLITAR” yang didanai oleh Pemerintah kota Blitar Jawa Timur Pada akhir 2006 awal 2007 lalu, rasanya saya perlu re-posting/posting ulang tulisan saya mengenai peristiwa besar ini. Sekali lagi saya tidak akan mempersoalkan keberadaan siapapun yang pernah mengaku dirinya “Shodanco Supriyadi”. Namun hanya sekadar mengingatkan kepada siapapun, akan makna tanggal 14 Februari.

Tulisan ini juga untuk sekadar mengingatkan kepada siapapun diantara anda yang dengan secara sengaja me-reposting ulang tulisan karya saya ini, di berbagai laman di internet dengan TANPA MENYEBUTKAN SUMBERnya.



==============================
TULISAN SAYA SETAHUN YANG LALU
==============================


Ini hanya sebuah bahasa bathin, yang saya tuliskan dalam rangkaian kata demi kata yang mewakili perjalanan telisik saya akan makna tanggal 14 Februari. Tanpa bermaksud mengesampingkan narasumber lain dan data manapun serta catatan sejarah perjuangan bangsa , tulisan ini hanya sebuah ungkapan pribadi saya dalam upaya merekam jejak SUPRIYADI dan BENDERA MERAH PUTIH 14 FEBRUARI 1945.


JEPANG, TENTARA PETA, BLITAR & SUPRIYADI

Pemberontakan Tentara Pembela Tanah Air (PETA) pada 14 Februari 1945, hingga kini masih menyisakan berbagai pertanyaan, khususnya mengenai Shodanco Supriyadi, sang inisiator yang sekaligus pemimpin perlawanan terhadap tuannya itu. Disebut tuannya, karena Tentara PETA yang beranggotakan para pemuda pribumi Indonesia itu adalah didikan tentara Pendudukan Jepang, yang akhirnya malah memakan tuannya. Murid melawan Guru.

Dan kala itu Tentara PETA Daidan Blitar-lah, yang kali pertama melawan tuannya, Jepang yang sedang bercahaya di Asia. Beberapa pemberontakan, sebenarnya telah terjadi sebelumnya yang dibidani oleh para ulama dan tokoh masyarakat di berbagai tempat di Indonesia. Setelah Peristiwa Daidan Blitar, Tentara PETA di tempat lain juga melakukan hal yang sama, seperti yang dilakukan oleh Shodanco Supriyadi dan kawan kawannya. Satu benang merah yang bisa disimpulkan dari masing masing perlawanan dan pemberontakan itu adalah Indonesia sudah tidak mau dijajah lagi, Indonesia harus Merdeka.



Penderitaan rakyat di berbagai tempat di bumi Nusantara kala itu sudah sangat parah. Harga diri bangsa yang diinjak injak, kemiskinan, kelaparan dan berbagai kesengsaraan menjangkiti sendi kehidupan. Ibaratnya, sore sakit malam mati, malam sakit pagi mati, pagi sakit siang mati, siang sakit malam mati, begitu seterusnya tiada henti. Demikianlah kira – kira yang dapat dilukiskan, dari satu sudut pandang mengenai keberadaan rakyat Indonesia yang dimobilisasi sebagai Romusha. Setiap hari, ratusan nyawa menjadi tumbal bagi kemerdekaan bangsa ini.

Pemandangan menyesakkan dada dan membuat perih mata bathin itu pula yang akhirnya membakar nasionalisme Shodanco Supriyadi dan kawan – kawannya di markas tentara PETA Blitar, dan benar benar menyala sebagai kobaran api patriotisme pada hari Selasa Legi Malam Rabu Pahing 14 Februari 1945. Meski dalam hitungan jam, nyala api pemberontakan itu dapat dipadamkan, tak urung membuat pihak Tentara Pendudukan Jepang di Blitar serasa kebakaran jenggot. Serta merta, berbagai upaya di lakukan pihak Jepang untuk mengeliminir agar peristiwa itu tidak menyebar informasinya bahkan menjangkiti Daidan PETA di tempat lain untuk turut berontak.



Pemberontakan PETA ini, walaupun dari sisi kejadiannya terlihat kurang efektif karena hanya berlangsung dalam beberapa jam dan mengakibatkan tertangkapnya hampir seluruh anggota pasukan PETA yang memberontak, kecuali Supriyadi namun dari sisi dampak yang ditimbulkan, peristiwa ini telah mampu membuka mata dunia. Sekali lagi pemberontakan PETA telah menggoreskan tinta emas dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, karena peristiwa tersebut merupakan satu satunya pemberontakan yang dilakukan oleh tentara didikan Jepang. Bahkan, pemberontakan ini boleh dikata sebagai satu-satunya fenomena anak didik Jepang yang berani melawan tuannya diseluruh kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur yang dijajah Kolonial Jepang.

MENCARI SUPRIYADI

Lebih dari 20 orang nara sumber (pelaku pemberontakan banyak yang sudah meninggal dunia) baik yang bersinggungan langsung atau tidak dengan peristiwa pemberontakan PETA Blitar pernah memberikan keterangan kepada saya. Mereka dengan lancar mengisahkan keterlibatan dirinya dalam peristiwa pemberontakan PETA Blitar, 64 tahun yang silam. Mereka diantaranya adalah mantan anggota tentara PETA Blitar berpangkat Gyuhei, Budhanco, bahkan eks Shodanco, meski bukan dari Daidan Blitar. Di hari tuanya, mereka tersebar di berbagai pelosok dan sudut Blitar, hanya tinggal beberapa orang saja.

Beberapa ahli waris pelaku pemberontakan PETA, mulai dari keluarga Supriyadi di Blitar pun tak luput dari incaran untuk dapat kembali mengisahkan suasana kala itu. Saya melengkapinya dengan menelisik ulang dengan mendatangi nara sumber lainnya. Disebutkan dari berbagai buku mengenai sejarah pemberontakan PETA, terakhir kali terlihat Shodanco Supriyadi berada di kediaman Hardjomiarso, Kepala Desa Sumberagung Kecamatan Gandusari (bahkan desa Sumberagung juga sempat dijadikan markas terakhir pemberontakan). Tak dapat saya temukan narasumber yang bisa memberikan keterangan mengenai sosok Hardjomiarso. Namun demikian, makam sosok Lurah yang banyak membantu Tentara PETA itu dapat saya temukan di desa Sumberagung Gandusari Kabupaten Blitar. Makam keluarga itu terawat dengan baik. Sebuah saksi yang tidak mampu bertutur.

Air terjun Sedudo, di Nganjuk adalah sebuah tempat lainnya di Jawa Timur yang konon menjadi tempat yang pernah disinggahi oleh Supriyadi, pasca pemberontakan. Sebuah nama tertulis juga dalam buku sejarah pemberontakan PETA, bahwa yang bersangkutan ikut membantu “menyembunyikan” Supriyadi dalam sebuah gua di puncak bukit dekat Sedudo. Dalam cuaca berkabut dan hujan deras, bersama seorang ahli waris “si penyembunyi” akhirnya saya berusaha untuk mendatanginya. Tak terjawabkan pula, dimana Supriyadi berada.

Krisik, adalah sebuah desa di wilayah Kabupaten Blitar yang berbatasan dengan wilayah Kabupaten Malang. Sebuah gua pertahanan jaman Jepang terdapat di sana. Seharian penuh, akhirnya saya dapat mencapai lokasi dimaksud. Dari data yang saya peroleh, disebutkan tentara PETA dan para romusha yang membuat gua – gua pertahanan dimaksud. Tak saya dapatkan keterangan tambahan mengenai keberadaan Supriyadi.

Pantai Tambak, Pantai Jolosutro, Pantai Serang di Blitar Selatan. Dilokasi ini, dulu tentara PETA Blitar membuat pertahanan, berlatih dan dengan mata telanjang, mereka melihat ratusan romusha bekerja paksa hingga menemui ajalnya. Supriyadi pernah berada dilokasi dimaksud. Namun kembali tak ada narsumber yang mampu bertutur mengenai adanya.

Panceran desa Ngancar Kecamatan Ngancar di Kabupaten Kediri, dilereng Gunung Kelud juga emplasemen Perkebunan Sumberlumbu, Perkebunan Sumberpetung telah pula saya datangi. Lereng Kelud adalah salah satu tempat yang dijadikan basis gerilya pasca pembontakan. Tak ada keterangan yang bisa menyebut akan keberadaan Supriyadi.

Saksi keberadaan Supriyadi yang masih ada hingga saat ini adalah Bangunan bekas Markas Tentara PETA di jalan Shodanco Supriyadi Blitar. Di kawasan yang kini dijadikan komplek pendidikan ini, terdapat bekas kamar tidur Supriyadi, dapur tentara PETA, bahkan kini telah berdiri megah monumen PETA Blitar. Tujuh patung terwujud disana menggambarkan wajah mereka pada saat pemberontakan terjadi 14 Februari 1945.

MENCARI SANG MERAH PUTIH
14 FEBRUARI 1945

Bicara mengenai pemberontakan PETA Blitar, sebenarnya tidak hanya bicara mengenai sosok Supriyadi yang misterius. Seketika setelah pemberontakan berlangsung sebuah bendera (yang akhirnya kini menjadi bendera Republik Indonesia) warna merah putih, berkibar di Blitar.

Adalah Parthohardjono (Tentara PETA Blitar), seorang yang dengan gagah berani megibarkan merah putih di lapangan depan markas Tentara PETA Blitar. Tempat itu, kini masuk dalam kawasan taman makam pahlawan Raden Wijaya, kota Blitar, persis di seberang monumen PETA Blitar. Sebuah catatan menyebut, pasca proklamasi kemerdekaan, tahun 1946 Panglima Besar Jenderal Sudirman mengunjungi tempat ini, sekaligus menyematkan karangan bunga.

Parthohardjono, yang kala itu tidak tinggal didalam asrama Tentara PETA Blitar (karena telah menikah), memilih tinggal indekos disebuah rumah tak jauh dari asrama. Bersama istrinya, berbulan – bulan memang telah menyiapkan kain merah (bekas kain penutup peti/ kotak peluru/ amunisi) dan kain putih, bekas sarung bantal untuk akhirnya dijadikan bendera. Disimpan sangat hati – hati, agar tidak ketahuan tentara Jepang, akhirnya berhasil pula menyelundupkan bendera tersebut dan dibawa persis waktu malam pemberontakan.

Ketika pemberontakan berlangsung, ketika mortir diledakkan, ketika aba aba komando tanda mulainya pemberontakan di serukan oleh Supriyadi, malam itu Kota Blitar benar benar mencekam suasananya. Hiruk pikuk tentara PETA yang mulai melakukan pemberontakan terhadap tuannya itu, makin membuat keberanian Parthohardjono memuncak.


Ia menuju tiang bendera di sisi utara lapangan markas PETA Blitar. Dengan kidmad, sang saka merah putih dinaikkan. Dalam posisi siap tegak berdiri, Parthohardjono melakukan hormat bendera. Sesaat setelahnya, dia bersujud di tanah lapang itu, mencium tanah tiga kali dengan mata berkaca – kaca haru, yakin bahwa malam itu Indonesia Merdeka.Keterangan ini tidak saja termuat dalam buku sejarah pemberontakan PETA. Ini adalah sebuah keterangan yang disampaikan oleh menantu Parthohardjono, di Blitar. Di hari tuanya, Parthohardjono memilih untuk tetap menjadi rakyat biasa. Parthohardjono, lebih dikenal dengan nama sebutan Partho Wedhus. Wedhus adalah kambing dalam bahasa Jawa. Memang, dihari tuanya Parthohardjono, sering membantu para petani dan tetangga desanya dengan menyumbangkan kambing untuk diternak dengan sitem bagi hasil.

Sayang, hanya sebuah makam yang dapat saya temui. Yang tidak bisa bercerita langsung akan peristiwa heroik itu. Permintaan Partohardjono kepada putrinya kala itu, “ Jika waktunya tiba, aku jangan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan”. Makam Parthohardjono, sang pengibar bendera merah putih 14 Februari 1945 itu (6 bulan sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945) berada disebuah makam desa, nun jauh dari Kota Blitar. Sebuah makam sederhana tanpa embel embel PAHLAWAN.Kemana merah putih yang telah berkibar pada 14 Februari 1945 itu, hingga kini tidak ada seorangpun yang mampu menunjukkannya.


REFLEKSI 14 FEBRUARI 1945

Kobaran Api Patriotisme dan Nasionalisme Pemberontakan PETA Blitar itu, hingga kini masih menyala, dan menjelma sebagai sebuah spirit khususnya bagi pemerintah kota Blitar dan warganya. Pun juga Kabupaten Blitar. Umumnya bagi Pemerintah Republik Indonesia.



Sudah seharusnya spirit itu mampu menjadi cambuk bagi Pemerintah dalam memperjuangkan kepentingan memakmurkan rakyatnya. Betapa Supriyadi telah nyata memberikan bukti untuk melawan kesewang wenangan, melawan penindasan, melawan penjajah. Bukankah Parthohardjono telah memberikan tauladan keberanian dan semangat perjuangan yang begitu besarnya, karena kecintaanya kepada Tanah Air. Bukankah, tentara PETA rela meregang nyawa untuk menunjukkan bahwa Indonesia mampu sejajar dengan bangsa dan terbebas dari belenggu penjajahan.

Sungguh ironis kiranya, jika pemberontakan PETA BLITAR hanya membekas sebagai sebuah catatan sejarah belaka. Sungguh ironis jika peristiwa heroik itu hanya diagendakan untuk diperingati tiap tahunnya dalam sebuah seremonial tanpa makna. Dan sungguh ironis jika pemerintahan negeri ini, malah membuat rakyatnya miskin dan terjajah, dan tak mampu membuat sejahtera rakyatnya.




2 comments:

Yogi Marsahala said...

Pemberontakan PETA Blitar masih misteri

Yogi Marsahala said...

Keberadaan Supriadi masih misteri, kunjungan balik ya ke blog saya www.goocap.com